CILACAP, (CIMED) – Pemuda dari Desa Energi Berdikari binaan TJSL Production Unit (PUC) Cilacap di wilayah Kebonmanis dan Lomanis menginisiasi program penulisan dan penerbitan buku sejarah desa sebagai upaya pelestarian budaya lokal serta penguatan identitas masyarakat. Pembekalan yang berlangsung di Ruang Kuliah Bersama, Auditorium Politeknik Negeri Cilacap, dengan melibatkan budayawan, akademisi, dan komunitas sejarah baru-baru ini.
Salah satu narasumber yang hadir adalah Yusmanto, budayawan, akademisi, sekaligus pengasuh Majalah Ancas, satu-satunya majalah bulanan berbahasa Banyumas. Dalam pemaparannya, Yusmanto berbagi pengalaman tentang bagaimana aktivitas menulis kearifan lokal telah membawanya berinteraksi dengan para peneliti budaya dari berbagai negara di Asia, Eropa, hingga benua lainnya.
Beberapa karya tulis yang pernah ia hasilkan antara lain mengenai bumi perjuangan Diponegoro, Calung Banyumasan, dan Lengger. Menurutnya, setiap daerah memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang layak didokumentasikan.
“Saya sampaikan bahwa menulis merupakan hak kita. Lomanis dan Kebonmanis di Cilacap sangat bagus untuk ditulis karena dekat dengan berbagai peristiwa perjuangan serta memiliki posisi strategis dalam perkembangan ekonomi daerah,” tutur Yusmanto.
Pembekalan berikutnya disampaikan oleh Thomas Sutasman dari komunitas Tjilatjap History. Selain berprofesi sebagai pendidik, Thomas juga aktif menulis dan menerbitkan sejumlah buku sejarah, di antaranya Jejak-Jejak Sejarah Cilacap, Sejarah Stasiun Cilacap, serta biografi pahlawan nasional asal Cilacap, Sukarjo Wiryopranoto.
Thomas menjelaskan bahwa wilayah Lomanis dan Kebonmanis memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan Kabupaten Cilacap, sehingga menyimpan banyak potensi cerita sejarah yang menarik untuk diangkat.
“Menarik untuk mengangkat asal-usul nama dusun, peristiwa perjuangan, sejarah geliat ekonomi di pelabuhan, hingga perkembangan kawasan industri,” jelasnya.
Apresiasi terhadap inisiatif tersebut juga disampaikan oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, Achmad Fauzi. Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya penyusunan dan pengumpulan data sejarah desa di Kabupaten Cilacap.
“Semoga kegiatan ini dapat diadopsi di wilayah lain sehingga kecintaan masyarakat terhadap akar budaya dan sejarah lokal semakin tumbuh,” ujarnya.
TJSL Production Unit Cilacap menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah awal untuk menggerakkan para pegiat Desa Energi Berdikari sekaligus mendorong proses regenerasi dalam pelestarian sejarah dan budaya lokal.
Melalui kerja sama dengan Panduan Institute, para pemuda di Lomanis dan Kebonmanis didorong untuk menulis sejarah desanya sendiri sekaligus merancang pengembangan program desa berdasarkan potensi yang dimiliki. Kegiatan pembekalan juga dihadiri oleh tim Rumah Inovasi Cilacap-Hive.
Melalui inisiatif ini, diharapkan lahir agenda kolaboratif yang berkelanjutan dan memunculkan berbagai inovasi baru yang memberikan manfaat bagi penguatan pilar ekonomi, lingkungan, dan pendidikan di desa. (*)



















